
PT KAI mengatakan tabrakan
antara kereta Argo Dwipangga jurusan Jakarta-Solo di Indramayu, Jawa
Barat, yang menewaskan belasan orang Selasa (01/10), bukan kecelakaan
kereta tapi kecelakaan lalu lintas.
Hal itu disampaikan Humas PT KAI Sugeng Priyono kepada BBC Indonesia.Tiga belas orang meninggal dan enam orang luka setelah mobil bak terbuka yang mereka tumpangi menabrak kereta Argo Dwipangga sekitar pukul 10:26 WIB di perlintasan tanpa palang pintu Desa Cengkok, Kecamatan Kertasemaya dekat dengan perbatasan Cirebon.
Polres Resort Indramayu mengatakan para korban adalah rombongan pengantar haji yang berangkat dari Asrama Haji Indramayu.
Kepala Humas Daops 3 Cirebon, Eko Budiyanto, mengatakan kepada BBC Indonesia bahwa kecelakaan ini adalah yang pertama kalinya terjadi di perlintasan itu.
"Kami sangat prihatin dengan kecelakaan ini dan turut berduka cita. Kami berharap ke depannya, warga masyarakat lebih berhati-hati dan mematuhi isyarat perlintasan kereta," kata Eko.
Perlintasan tak berpalang
Eko membantah jika tidak adanya palang perlintasan sebagai penyebab kecelakaan."Palang perlintasan itu ditujuan untuk hewan agar ternak seperti kerbau atau kuda tidak menyeberang saat kereta lewat, kalau untuk manusia cukup dengan isyarat ya sebelum menyeberang tengok kiri kanan, kalau lonceng berbunyi ya jangan menyeberang," katanya.
Menurut Eko, di wilayah Daops 3 ada 206 perlintasan dan hanya 68 yang dijaga.
"Kalau semua harus dijaga, berapa biayanya? Untuk satu perlintasan harus dijaga empat orang sehari karena 24 jam bergantian, itu biayanya besar sekali," tambahnya.
Ia mengatakan jumlah pegawai di Daops 3 Cirebon adalah 1.500 orang.
"Kalau harus membangun palang perlintasan, itu pun biayanya besar sekali dan tidak memungkinkan," kata Eko.
Semua korban dibawa ke Rumah Sakit Zamzam, Indramayu.
Kecelakaan ini terjadi empat bulan setelah Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengeluarkan laporan yang menyatakan tingkat kecelakaan kereta api di Indonesia terus menurun.
Berdasarkan data KNKT, tahun yang bisa dibilang terburuk adalah 2007 ketika terjadi 14 kecelakaan besar. Angka ini turun pada 2011 dengan satu kasus kecelakaan besar dan 2012 ada tiga.
Riset KNKT menunjukkan kecelakaan umumnya terjadi karena faktor sarana (34%), prasarana (32%), manusia (18%), operasional (9%) dan faktor eksternal (7%).
Posting Komentar