Posted by : Bagus Triatmaja
Sabtu, 24 Agustus 2013

Keberadaan kesenian tradisionil Indramayu, lambat-laun nampaknya semakin dijauhi masyarakat. Puluhan bahkan ratusan grup Sandiwara dan Wayang (Kulit/Golek) yang ada di Indramayu, kini nyaris tenggelam ditelan arus globalisasi teknologi.
Anak-anak
zaman sekarang, lebih mengenal tokoh-tokoh cerita dari mancanegara
yang diperoleh melalui kecanggihan TI (Teknologi Informasi) internet,
game ataupun play station. Tokoh-tokoh pewayangan yang biasa
dipentaskan dalang wayang dan tokoh sejarah yang diperankan pemain
sandiwara, nyaris tak dikenal generasi muda.
Lalu,
apa gerangan yang terjadi dengan kesenian tradisionil khas Indramayu
yang nota bene merupakan warisan budaya nenek moyang itu. Kadispora dan
Budpar (Kepala Dinas Pemuda Olah Raga dan Kebudayaan Pariwisata) Drs.
H. Susanto, MM menilai terjadinya kemerosotan seni tradisionil
khususnya di Indramayu itu karena sebagian masyarakat, khususnya
pelaku seni yang menganggap bahwa berkesenian itu sebagai kegiatan
sambilan. Bukan sebagai pekerjaan pilihan. Padahal berkesenian itu
mampu menghidupi perekonomian keluarga. Bahkan dapat menggerakkan
perekonomian masyarakat.
Menurut
Susanto, karena kegiatan berkesenian itu masih dianggap sebagai
pekerjaan sambilan, maka banyak pelaku seni yang kurang serius
menangani kesenian. Padahal Kabupaten Indramayu ini sejak dahulu dikenal
sebagai gudangnya seni.
Agar
kesenian tradisionil itu terus eksis dan berkembang, Pemda Indramayu
berusaha mencari jalan keluar sehingga pada akhirnya pelaku seni itu
bisa lebih profesional. Tentunya menyesuaikan dengan perkembangan
zaman seperti saat ini.
Ia mengambil
contoh kesenian wayang. Dahulu menanggap kesenian wayang itu sebagai
tontonan primadona di masyarakat. Banyak warga yang berduyun-duyun
ingin melihat pementasan wayang. Sekarang, tontonan wayang semakin
berkurang. Wayang hanya dipentaskan pada saat masyarakat di desa
menggelar upacara adat seperti Mapag Sri, Sedekah Bumi dan Unjungan.
KUMPULKAN DALANG
Melihat hal itu, Susanto merasa prihatin. Ia mengajak para pelaku seni untuk terus gigih mempromosikan diri ke masyarakat. Supaya masyarakat khususnya generasi muda, mencintai kesenian tradisionil dan tak berpaling ke kesenian lain.
Melihat hal itu, Susanto merasa prihatin. Ia mengajak para pelaku seni untuk terus gigih mempromosikan diri ke masyarakat. Supaya masyarakat khususnya generasi muda, mencintai kesenian tradisionil dan tak berpaling ke kesenian lain.
Diakui
pada zaman dahulu, anak-anak bisa dengan mudah mengenal tokoh-tokoh
pewayangan melalui permainan gambar. Gambar yang berisi tokoh
pewayangan itu sekarang sudah tak kelihatan lagi. Padahal mainan gambar
tokoh pewayangan itu bagus untuk mengenalkan tokoh pewayangan kepada
anak-anak.
Saya prihatin generasi
muda sekarang ini lebih menyukai tontonan alternatif, seperti;
permainan game, play station dan sebagainya. Padahal menonton wayang
itu syarat dengan pesan-pesan moral; budi pekerti, agama dan
sebagainya, katanya.
“Insya Allah ke
depan, Dispora dan Budpar Indramayu akan mengumpulkan dalang wayang.
Kita akan ajak bicara. Mencari jalan keluar misalnya memperkenalkan
kembali tokoh-tokoh pewayangan melalui pendidikan Eskul (ekstra
kurikuler) di sekolah-sekolah. Sehingga generasi muda dapat mengenal
tokoh pewayangan itu. Sekarang tinggal tergantung pada dalang. Sudah
siap kah mereka memasuki sekolah-sekolah melalui Program Studi Eskul,”
imbuhnya.
Tak hanya kesenian wayang,
Susanto pun melihat kesenian sandiwara yang dahulu menjamur di
Indramayu sekarang sudah jarang ditanggap. Padahal sandiwara itu
betul-betul dapat menggerakan perekonomian keluarga dan masyarakat.
Satu grup sandiwara terdiri dari 60 orang kru. Mereka ada yang menjadi
pemeran lakon, nayaga (penabuh gamelan) dan bagian peralatan.
Susanto
menambahkan, Pemda Indramayu ikut bertanggung-jawab memfasilitasi
bersama pelaku seni. “Pemda Indramayu tidak bisa menghidupi kesenian,
tapi bisa menghidupkan pelaku seni di Indramayu dengan program-program
kegiatan mengembangkan seni budaya yang ada di Indramayu,” terangnya.
Sebagai
kepanjangan tangan Dispora dan Budpar di tingkat kecamatan, sudah ada
Pamong Budaya yang tugasnya antara lain memonitor dan mensurvey
keberadaan kesenian di desa-desa.
Posting Komentar